Mendekati hari-hari pemilu seperti ini tentu ada beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Salah satunya yang sering tak terpikirkan oleh pemilih lain adalah tentang masalah pemilih penyandang tunanetra, pemerintah sudah mengupayakan agar penyandang tunanetra dapat memilih dengan luber dan jurdil, namun pada kenyataannya penyandang tunanetra akan didampingi saat melakukan pemilihan. Hal tersebut akan menyalahi prinsip luber dan jurdil.
Karena alasan itulah saya dapat ilham untuk mengembangkan sebuah sistem pemilu bagi penyandang tunanetra, yaitu dengan memanfatkan sensor proximity (sensor jarak).
Jadi, pada dasarnya sistem ini akan memerlukan alat sebagai berikut.
1. Komputer LCD
2. Sensor Proximity Capacitive
3. Program khusus pemilu
4. Headphone/headset
Sebelum memilih penyandang tunanetra akan diberi penyuluhan
tentang cara memilih menggunakan sistem ini. Lebih baik lagi jika langsung
dilakukan simulasi agar cepat mengerti prinsip kerjanya.
Penyandang
tunanetra yang akan memilih diantar petugas ke bilik pemilihan, kemudian
penyandang tunanetra akan dipakaikan headphone. Petugas keluar dari bilik
pemilihan. Penyandang tunanetra mendekatkan jarinya kelayar (namun tidak sampai
menyentuhnya), sensor akan mendeteksi bahwa ada benda yang mendekat sehingga pada
jarak sekitar 5cm dari layar maka akan terdengar suara di headphone menyerukan
nama partai/caleg/capres yang ditunjuknya. Jika penyandang tunanetra tersebut
sudah menemukan calon yang akan dipilih maka dia tinggal memencet layarnya. Setelah
melakukan pemilihan maka akan terdengar suara pemberitahuan yang menyatakan
bahwa pemilih sudah melakukan pemilihan. Dengan ini maka para penyandang
tunanetra bisa tetap melakukan pemilu yang lebih luber dan jurdil.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar